Mengenal Lebih Dekat Masjid Nurul Iman

Wawancara Eksklusif

Bersama Ketua DKM Nurul Iman, Prof. Dr. Ir. H. Cecep Kusmana, MS

Masjid Nurul Iman adalah masjid yang terletak di Komplek Laladon Permai, Bogor. Di masjid inilah warga muslim baik itu dari komplek sendiri maupun di sekitar komplek menunaikan ibadah. Mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta, Allah swt.

Kali ini, saya bersama teman-teman dari Pesantren Media berkesempatan menjumpai Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Nurul Iman, Prof. Dr. Ir. H. Cecep Kusmana, MS di kediaman beliau guna mengetahui lebih jauh tentang masjid ini. Berikut petikan wawancaranya.

Kapan Masjid Nurul Iman berdiri?

Wah, saya kok agak lupa ya. Saya memperkirakan masjid ini berdiri sekitar tahun 80-an. Atau mungkin tepatnya di tahun 1987. Jadi sudah lama. Awalnya bukan masjid, tapi musholla. Sebenarnya lokasinya kurang strategis. Selain dekat sunngai yang rawan longsor karena tebingnya sering tergerus sungai, masjid ini juga dekat kuburan. Masjid ini sebenarnya bagus kalau dibangun di bagian depan komplek, di sekitar puskesmas. Namun karena tidak ada tempat, terpaksa masjid ini dibangun di tempat yang kita kenal saat ini.

Apa ada sejarah di balik pemilihan nama ‘Nurul Iman’ sebagai nama masjid?

Saya kira tidak ada. Saya tidak tahu persis siapa yang pertama kali mencetuskan nama Nurul Iman. Mungkin para pembuka masjid waktu itu seperti Pak Aan, Pak Suryono, Pak Marhadi (Alm.), Pak Undang, dan Pak Anas, mereka berembuk dan menentukan nama masjid. Tapi saya belum tahu persis siapa yang pertama kali mengusulkan nama itu. Mungkin ada baiknya juga wawancara dengan Pak Aan. Beliau adalah ketua pertama DKM. Beliau juga merupakan Ketua RW kedua.

Sudah berapa lama Bapak menjabat sebagai Ketua DKM Nurul Iman?

Saya sudah menjabat selama dua periode. Pemilihannya biasanya dilakukan setiap dua tahun. Cuma pada periode pertama, entah karena apa, lupa diadakan pemilihan lagi. Jadi bablas kira-kira sampai tiga tahun. Dan setelah itu saya dipilih lagi untuk masa jabatan saya yang kedua. Berarti sudah empat tahun lebih saya menjabat sebagai Ketua DKM Nurul Iman.

Selama memimpin, kendala apa yang sering Bapak jumpai?

Saya kira, kendala pertama adalah dana. Kita kan banyak kegiatan. Nah, dana yang berasal dari iuran rutin biasanya hanya cukup untuk kegiatan yang paling mendasar, misalnya untuk gaji marbot. Namun untuk kerja-kerja besar seperti yang saat ini dilakukan, membangun tempat wudhu, dan lain semacamnya, tentu iuran rutin sudah tidak mencukupi. Tentu harus mencari donatur-donatur tertentu. Tapi alhamdulillah sampai saat ini bisa teratasi.

Kendala kedua saya kira adalah sulitnya mengajak remaja, baik remaja putra atau putri untuk aktif di masjid. Dalam arti lain belajar di masjid. Kalau anak-anak gampang. Asal ada yang mengajari, mereka akan datang. Mungkin masalah sulitnya mengajak remaja ini terkait kurikulum di sekolah yang terlalu padat. Pulang sekolah sudah capek. Ditambah lahgi segudang PR dari sekolah. Sehingga mungkin mereka memilih untuk lebih memprioritaskan perhatian ke sekolah daripada aktif belajar di masjid.

Selain menjabat sebagai ketua DKM, Bapak juga dikenal sebagai salah seorang guru besar di IPB yang tentunya mempunyai agenda yang padat. Nah, bagaimana cara Bapak membagi waktu antara masjid dan kampus?

Sebenarnya bagi saya mengelola masjid ini tidak berat sehingga tidak begitu menyita waktu saya. Karena menurut saya, masjid di komplek ini tidak membutuhkan gaya manajemen yang berat. Jika masjid ini diterapkan gaya menajemen yang modern itu juga tidak akan efektif. Pertama karena warganya juga tidak terlalu banyak. Kedua, menurut saya yang diperlukan warga di sini bukan sesuatu yang muluk-muluk. Yang penting masjid bersih, pengajian mingguan berjalan, ada yang adzan di tiap waktu shalat, dan lain sebagainya. Jika lebih dari itu, percuma, tidak akan ada yang hadir. Saya dulu pernah membuka program Bahasa Arab. Awalnya yang hadir banyak. Lama-lama jumlahnya semakin berkurang dan akhirnya bubar. Selain itu dana untuk mengadakan kegiatan juga terbatas. Beda jika masjid ini adalah masjid kampus. Misalnya Masjid al-Azhar yang di Mesir itu. Gaya manajemen yang berat dan menyita waktu tentu dibutuhkan.

Selama ini, ada keluhan tidak dari masyarakat?

Kalau keluhan itu ada. Misalnya fasilitas masjid. Misalnya pengeras suara kurang terdengar, masalah muadzin yang di bawah standar, dan lain sebagainya. Dan alhamdulillah teratasi.

Selama memimpin, apa suka duka yang sempat dirasakan?

Sukanya adalah saya merasa bahwa saya mendapat ladang untuk beribadah kepada Allah. Yang lainnya adalah sumber silaturrahmi. Dulu saya sehabis Maghrib jarang langsung pulang ke rumah. Saya kumpul-kumpul dulu di masjid. Namun sekarang saya semakin sibuk. Pulang kerumah sering jam 10 malam. Saya mendambakan seperti dulu lagi.

Kalau dukanya barangkali ketika melihat jumlah jama’ah shalat yang menurun. Saya agak sedih. Saya juga sedih jika melihat kegiatan keagamaan tidak jalan. Saya juga sedih manakala melihat ustadz pengisi kajian terlambat atau tidak hadir. Dan juga kadang-kadang yang adzan atau yang menjadi imam tidak hadir. Jadi intinya saya merasa berduka jika kegiatan-kegiatan keagamaan terganggu. Yang kedua jika ada sebuah kegiatan atau sesuatu yang akan dilakukan oleh masjid tapi dananya belum siap. Itu juga bagi saya merupakan perasaan duka dalam tanda kutip. Banyak yang harus dikerjakan tapi dana belum terbayang dari mana. Misalnya suatu ketika saya melihat pondasi masjid sudah menggantung, mau roboh. Setelah dihitung ternyata butuh 30 juta. Ini harus cepat. Kalau tidak masjid amburadul. Nah, di situlah saya merasakan duka. Namun alhamdulillah dapat teratasi.

Harapan Bapak mengenai masjid ini ke depan bagaimana?

Kalau bisa kita ingin meningkatkan atau memegahkan bangunan masjid. Baik itu ditingkat atau diperlebar. Yang kedua kita ingin menghidupkan kegiatan keagamaan di masjid di masjid, terutama untuk remaja. Jadi masjid itu terlihat hidup. Sebenarnya saya juga mengharapkan juga Pesantren Media untuk ikut memakmurkan. Dalam artian kegiatan atau pengajian bisa pesantren bisa diadakan di sana.

Ada pesan untuk warga?

Pesan saya pada warga, mari makmurkan masjid kita. Kalau bisa semua warga shalat berjama’ah di masjid. Kedua, ikuti kegiatan pengajian rutin Sabtu dan Ahad di masjid. Ketiga, mari berlomba meningkatkan amal shadaqoh untuk kecukupan dana kegiatan masjid. Insya Allah masjid juga akan menyalurkannya pada yang benar-benar membutuhkannya misalnya berupa santunan pada duafa dan anak-anak yatim.

(Farid Ab, Santri Pesantren Media, tinggal di Laladon Permai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s