Semarak Idul Adha 1433 H DKM Nurul Iman

Seiring gema takbir yang bertalu-talu, Hari Raya Idul Adha kembali hadir di tengah-tengah Umat Islam. Membawa kebahagiaan. Membuat setiap hati orang-orang yang beriman riang, bersuka cita. Ya, inilah hari raya, selain Idul Fitri, yang memang seharusnya disambut dengan segenap sukacita oleh tiap-tiap dari manusia yang mengaku muslim.

Seluruh dunia Islam bergerak, menyambut hari besar ini. Hewan-hewan kurban disiapkan. Pisau dan golok diasah. Masjid-masjid menggelar tenda dan tikar. Semuanya berjalan serentak. Menyambut Hari Raya Idul Adha 1433 H yang jatuh pada hari Jum’at, 26 Oktober ini.

Sebagai bagian dari dunia Islam, Dewan Keluarga Masjid (DKM) Nurul Iman, Komplek Laladon Permai, Bogor, juga turut larut dalam kesibukan ini. Persiapan bahkan mulai nampak sejak Rabu pagi. Lapangan olahraga Komplek Laladon Permai yang terletak persis di belakang pos satpam ini sudah mulai dipasangi tenda berwarna biru. Di lapangan inilah shalat Ied dan juga prosesi penyembelihan hewan qurban dilaksanakan.

Tenda warna biru

Adanya tenda ini ternyata menarik perhatian anak-anak. Banyak anak-anak berkumpul di sini. Ada yang sekedar duduk di pendopo lapangan sambil bengong, ada yang bercanda dan tertawa satu sama lain, dan ada pula yang berlarian ke sana-ke mari. Seolah mereka sudah tidak sabar menanti kedatangan Hari Raya Qurban ini.

Anak-anak ini semakin antusias tatkala hewan qurban berupa sapi mulai berdatangan pada Kamis pagi. Hewan-hewan ini pun menjadi daya tarik lain bagi mereka. Pagi itu, ada 4 ekor sapi yang didatangkan. Sedangkan menurut catatan panitia, ada total 5 ekor sapi dan 11 kambing yang akan dikurbankan. Sisa semua hewan kurban baru datang Jum’at pagi.

Dan pada Jum’at pagi sudah dapat dipastikan satu hal. Tidak hanya anak-anak yang meramaikan tempat ini, melainkan juga umat Islam dari berbagai umur. Di sini, mereka akan disibukkan dengan kegiatan khas Idul Adha yaitu shalat Id, prosesi penyembelihan hewan qurban, dan juga pembagian dagingnya.

Prosesi Shalat Idul Adha

Seperi yang telah diketahui, pagi ini Jamaah DKM Nurul Iman akan melaksanakan Sholat Idul Adha di lapangan yang terletak tepat di sebelah pos satpam komplek Laladon permai. Usai sholat shubuh tadi telah diumumkan bahwa sholat akan dimulai sekitar pukul 06:15. Dan pagi ini panitia tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan untuk sholat Idul Adha nanti. Lapangan telah dibersihkan, tikar dan sajadah pun sudah mulai di gelar.

Sholat Idul Adha memang disunnahkan agar dilakukan lebih pagi, sehingga segala macam persiapan harus dilakukan segera mungkin. Alhamdulillah tenda sudah dipasang sejak  jauh hari, yaitu pada Hari Rabu kemarin. Beberapa sapi dan kambing pun terlihat sudah siap dipinggir lapangan untuk kurban usai Sholat Idul Adha nanti.

Rencananya sholat akan dimulai jam 6:15, namun 20 menit sebelumnya, masih sedikit jamaah yang terlihat  berada dilapangan, terhitung hanya ada sekitar 15 orang yang sudah datang dan duduk rapi di depan.

Embun pagi melengkapi suasana pagi ini, disaat orang-orang antusias  pergi ke lapangan, embun dan angin pagi yang segar juga  turut menemani kegembiraan mereka, membuat pagi ini terasa sangat berbeda dari pagi-pagi seblumnya.

Senyuman matahari juga tak kalah riangnya menyambut hari akbar ini, cahayanya semakin terpancar menerangi pagi yang gelap menjadi siang yang terang benderang . Dan tak mau kalah juga, sejumlah  jamaah terihat semakin memenuhi lapangan seiring dengan gema takbir yang semakin akrab dengan telinga ini. Suara takbir yang sudah berulang-ulang dikumandangkan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan kali ini terdengar seperti sebuah panggilan menuju lapangan.

Akhirnya, jamaah sudah terlihat memenuhi lapangan. Sekitar jam 6:15, sebelum sholat Idul Adha ini dimulai, Pak Cecep Kusmana selaku ketua DKM Nurul Iman memberikan sedikit Informasi mengenai kegiatan penyembelihan kurban yang akan dilaksanakan usai shoat Idul Adha ini. Menurut data yang diberikan Pak Cecep, ada 5 sapi dan 11 kambing yang akan dikurbankan di hari ini. Namun di lapangan baru terlihat 4 sapi dan 2 kambing. Sisanya mungkin akan menyusul. Pak Cecep juga menambahkan bahwa ada sekitar 600 kupon yang telah dibagikan kepada masyarkat terutama masyarakat Komplek Laladon Permai untuk pengambilan jatah daging kurban nanti siang.

Akhirnya, tujuan utama dari berkumpulnya seluruh jama’ah ini pun akan segera dimulai. Setelah mendengarkan sedikit informasi dari ketua DKM, Sholat Idul Adha pun akan segera dimulai. Imam kali ini adalah Ustadz Umar Abdullah.

“Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!”

Takbir  yang dikumandangakn oleh Pak Bandi ini menandakan bahwa Sholat Ied segera dimulai, dan para jamaah pun serentak berdiri dan siap dengan posisinya masing-masing. Namun tetap saja masih ada yang baru menata sajadahnya bahkan ada juga yang baru datang dengan nafas yang ngos-ngosan, mungkin karena lari terburu-buru.

“Allahuakbar.”

Imam pun memulai dengan Takbiratul Ihram, suasana seketika terasa hening, hanya suara Imam yang terdengar lantang. Seluruh jama’ah pun terlihat sangat khusyuk, meski aroma khas dari sapi dan kambing turut hadir di tengah keheningan ini. Aroma yang sudah biasa tercium di hari Idul Adha ini berasal dari sapi dan kambing yang ada di pinggir lapangan. Namun semua itu tidaklah membuat antusias para jamaah menjadi berkurang. Lihat saja lapangan yang dipenuhi para jama’ah yang berasal dari berbagai penjuru arah, berkumpul dalam satu tempat, menyatukan hati dan jiwa dalam satu  tujuan yang mulia.

Tidak berbeda dengan Sholat Idul fitri kemarin, saat sholat sedang berlangsung, ada saja orang yang baru datang. Tak tahu apa alasan yang membuatnya terlambat, dan apapun alasannya itu tidaklah penting untuk dibahas. Anggap saja ia memiliki urusan lain yang sangat penting sehingga membuatnya terlambat. Setidaknya ia sudah berusaha untuk tetap datang.

“Assalamualikum Warahmatullah.”

Dua rakaat Sholat Idul Adha pun selesai, salam terakhir ini mengakhiri Sholat Idul Adha. tapi bukan berarti semuanya sudah berakhir, masih ada satu hal lagi yang beum dilakukan. Ya, kalian benar, sama halnya dengan sholat jumat yang tidak akan lengkap jika tanpa khutbah. Begitu juga dengan Sholat Ied ini. Sholat Ied juga selalu diikuti dengan khutbah, hanya bedanya khutbah pada Sholat Ied dilakukan setelah Sholat, tidak seperti Sholat Jumat yang dilakukan sebelum Sholat.

Idul Adha ini memang tidak pernah lepas dengan gema suara takbir. Tak heran, khotib pun memulai khutbahnya dengan diawali takbir, dan di tengah-tengah khutbah juga tak jarang suara takbir terdengar lagi dari sang Khotib.

Dalam khutbah pertama ini, Ustadz Umar selaku Khotib menyampaikan banyak hal, diantaranya ia menjelaskan kepada para jama’ah bahwa hari ini adalah puncak dari 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang sangat disenangi Allah. Beliau juga mengajak untuk selalu bersedekah dan menjauhi perbuatan-perbuatan setan, dan masih banyak sebenarnya hal penting lain yang telah disampaikan beliau dalam khutbah itu, hanya saja memory otak ini tidak mampu menampung semua itu.

Para Jama’ah mendengarkan khutbah dengan khidmat, tak ada yang terlihat mengantuk, berbicara sendiri, atau pun bersenda gurau. Semuanya mendengarkan dengan seksama termasuk anak-anak yang biasanya menjadi biang keributan. Namun sayangnya, saat khotib berbicara di depan mimbar, masih ada saja jamaah yang baru datang, yang telat karena mungkin tidak mendengarkan pengumuman. Tapi kembali lagi, tidaklah penting membahas hal itu.

Para Jama’ah khusyuk mendengarkan khutbah

Jika pada khutbah pertama tadi, khotib lebih banyak menjelaskan mengenai hari Idul Adha. Pada khutbah kedua ini, khotib mengajak para jama’ah untuk tetap bertaqwa kepada Allah, menjadi orang yang mau menasehati dan dinasehati. Menjadi orang yang mau saing menasehati.

Dengan kata-kata yang tidak terlalu panjang lebar namun menycakup wawasan yang luas. Akhirnya khotbah pun berakhir dengan diakhiri do’a bersama-sama, Ustad Umar  memimpin doa. Semua jama’ah mengangkat tangannya seraya mengucap ‘amiin’ dengan serentak.

Prosesi Sholat Idul Adha pun akhirnya selesai juga. Setelah itu semua para jama’ah saling bersalam-salaman satu sama lain.

Proses Peyembelihan

Bagi sebagian besar masyarakat, proses penyembelihan mungkin menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, semuanya menantikan datangnya momen ini. Dimana akan ada banyak hal yang akan terjadi, banyak peristiwa penting yang akan memenuhi memori otak ini, dan pastinya akan ada banyak kejadian yang pantas untuk diceritakan kepada orang lain.

Matahari sudah benar-benar menampakkan wujudnya, memancarkan sinarnya ke permuakaan bumi, bak lampu yang menerangi ruangan. Cahayanya tak terelakkan lagi, kehangatannya memberikan banyak manfaat bagi penduduk bumi ini, dan semua ini tentunya tak terlepas dari Sang Pencipta dunia ini Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Jam setengah delapan, seluruh hewan kurban sudah berada di pinggir lapangan, dan seluruh panitia pun sudah berkumpul di lapangan, mempersiapkan segala yang dibutuhkan, mempercepat kerja dengan harapan agar hari Jum’at ini semua kurban dapat selesai hingga proses pembagian nanti. Meski banyak juga yang tidak yakin kalau 5 sapi dan 11 kambing dapat terselesaikan pada hari ini.

Jam delapan tepat, lapangan sudah dipenuhi warga yang antusias ingin menyaksiakan prosesi penyembelihan hewan kurban. Dimulai dari anak-anak hinggga orang dewasa terlihat memenuhi setiap sudut lapangan.

Akhirnya, momen yang paling ditunggu-tunggu pun tiba, lubang untuk menampung darah sudah dibuat, penyembelih hewan kurban yaitu Ustadz Solihin,  sudah siap dengan pisaunya yang sangat tajam, setajam tatapan para penonton yang siap menyaksiakan setiap momen penting ini. Satu kambing diseret menuju area penyembelihan, penonton pun berduyun-duyun mendekat, berdiri mengelilingi area penyembelihan tersebut.

Kambing pun direbahkan, dengan posisi miring,  tulang rusuk kiri di bagian tanah. Leher kambing disandarkan pada balok kayu. Dan dengan diawali bismillah,  dalam hitungan detik pisau yang sangat tajam itu sudah menembus kulit kambing itu. Satu kambing sudah tereksekusi, darah mengalir dari bagian leher kambing itu seperti air yang megalir dari kran. Dan terlihat ekspresi yang berbeda-beda dari penonton yang menyaksikan, ada yang berteriak, ada yang memasang wajah takut, kasihan, dan ada pula yang terlihat senang.

Setelah darah sudah tidak mengalir lagi dari leher kambing itu, kambing pun langsung diangkat dan digantung pada tempat yang sudah disediakan untuk kemudian langsung dikuliti oleh pekerja lain. Tim penyembelih pun tetap fokus pada tugasnya. Satu persatu kambing itu diseret dan dieksekusi dengan sangat cepat, tim penyembelih ini nampaknya sudah sangat profesional. Tak butuh waktu lama untuk mengeksekusi beberapa kambing.

Para penonton pun semakin antusias menyaksikan proses penyembelihan ini. Terik matahari yang semakin menyengat tidak membuat mereka menyerah begitu saja, bahkan penonton malah terlihat semakin banyak, dan satpam-satpam semakin kualahan mengatur para penonton yang susah diatur ini. Sudah disuruh agar menjauh tetap saja mendekat lagi. Memang penyembelihan kurban ini menimbulkan daya tarik yang besar bagi masyarakat sekitar. Wajarlah, karena momen ini hanya terjadi satu kali dalam setahun.

Tak terasa sekitar lima belas menit berlangsung, sudah sekitar  4 kambing yang tereksekusi, bahkan ada juga yang sudah hampir selesai dikuliti. Semua pekerjaan berjalan dengan cepat. Para petugas penyembelih terlihat sangat sibuk dengan tugasnya kali ini, namun tak kalah juga ada seorang  fotografer yang  juga sama sibuknya mengoperasikan cameranya, ia tidak mau ketinggalan satu momen pun pada saat itu.

“Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!”

Suara takbir turut menyelimuti prosesi kurban ini, tak henti-hentinya seruan takbir itu terus saja diserukan, terutama saat hewan hendak disembelih. Dan kambing-kambing lain hanya dapat pasrah akan nasib yang akan menimpanya nanti.

Semakin banyak kambing yang telah tereksekusi, bahkan ada  beberapa kambing yang  sudah selesai dikuliti dan langsug diangkat menuju tempat pemotongan daging, beberapa pemotong daging yaitu Pak Bandi dan teman-temannya terlihat  sudah siap dengan pisau tajamnya.

Pekerjaan berlangsung sangat cepat, tim peyembelih, tim yang menguliti, tim pemotong daging, semuanya fokus dengan pekerjaan masing-masing. Namun semuanya tetap terlihat santai.

Kambing yang telah dikuliti kemudian digantung di tempat yang sudah disediakan, lalu daging pun dipisahkan dari tulang-tulang, lemak, semuanya dipisahkan bagian per bagian.

Sekitar 9 kambing akhirnya sudah selesai disembelih hanya dalam waktu 30 menit, masih ada dua kambing yang tersisakan. Entah mengapa dua kmbing itu tidak langsung disembelih, mungkin karena pemiliknya belum hadir sehingga harus menunggu.

Pekerjaan semakin lancar, kambing yang sudah disembelih langsung dikuliti, kemudian langsung di potong-potong. Kambing yang sudah dipotong-potong pun langsung dibungkus oleh ibu-ibu dengan takaran yang sudah disetujui. Setiap bungkus dijatah sekitar 1 kg lebih.

Ternyata semakin siang, para penonton semakin sedikit, banyak yang kelelahan dan kemudian pulang, ada yang terlihat duduk-duduk di tempat yang teduh, ada juga yang masih bersemangat mengikuti proses ini. Namun antusias penonton kembali naik saat seekor sapi diseret menuju area penyembelihan. Ini  menjadi daya tarik lain bagi para penonton, karena tentunya akan ada lebih banyak ketegangan yang terjadi.

Seluruh penonton kembali memenuhi daerah penyembelihan saat sapi akan segera disembelih, dan para satpam pun terlihat kembali kualahan mengatur penonton yang ingin segera menyaksikan penyembelihan sapi ini, tali pembatas yang sudah dibuat seperti tidak berarti bagi para penonton. Sapi yang terlihat galak tidak membuat anak-anak takut untuk melihat dari dekat.

Seekor sapi sedang berusaha ditaklukkan

Benar. Jauh lebih susah menaklukkan sapi dibandingkan kambing, berungkali sapi memberontak. Tim penyembelih bahkan terilihat kesulitan untuk menjatuhkan sapi, butuh lebih banyak orang dibanding saat mengeksekusi kambing. Namun karena sudah profesional, tidak ada masaah yang berarti bagi para penyembelih ini. Dengan teriakan, “Allahuakbar!”, Sapi pun akhirnya tumbang, petugas penyembelih langsung memegang erat sapi itu. Dan dengan pisau yang lebih besar dan tajam, leher sapi pun dapat dengan mudah ditaklukkan. Darah langsung mengalir deras dari bagian leher sapi, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat darah itu berhenti mengalir.

Setelah disembelih, sapi itu diangkat ke lapangan, dan dengan leher yang menganga sapi dibiarkan terkapar di lapangan  hingga sapi benar-benar tidak bergerak lagi. Setelah sapi benar-benar sudah tidak bergerak lagi alias benar-benar mati, kemudian sapi itu pun langsung dikuliti di lapangan, di bawah terik matahari.

Tim penyembelih tetap fokus menyembelih sapi yang lain, petugas yang lain juga tetap bekerja sesuai tugasnya, ada yang menguliti, ada yang memotong daging, ada yang memotong tulang menggunakan mesin, dan ibu-ibu membantu membungkus daging.

Santri Pesantren Media juga terlihat turut ambil bagian dalam kegiatan kurban ini, mereka membantu ibu-ibu dalam hal membungkus daging karena mungkin ini adalah tugas yang paling mudah dari yang lainnya. Tapi tidak semudah seperti yang dibayangkan, karena ukuran harus benar-benar pas, dan dalam satu bungkus terdiri dari berbagai bagian, daging, lemak, tulang, semuanya dibagi rata.

3 sapi sudah berhasil disembelih dalam waktu sekitar setengah jam, padahal tadi setengah jam bisa menyembelih 9 kambing. Sungguh memang sangat berat. Tapi petugas terlihat sangat cepat memproses hewan kurban ini, mulai dari disembelih hingga pembungkusan terlihat sangat cepat, apalagi didukung dengan pekerja yang terbilang banyak.

Semua hewan kurban akhirnya selesai disembelih, termasuk dua kambing yang tadi disisakan karena pemiliknya belum hadir. Kini semua pekerjaan terfokus pada proses menguliti, pemotongan daging, dan pembungkusan. Penonton terlihat semakin sepi, karena tidak ada lagi daya tarik yang dapat membuat mereka tetap di sini.

Proses menguliti ternyata berlangsung cepat, sebelum memasuki sholat Jum’at, semua hewan kurban sudah berhasil dikuliti, semuanya tak terbayangkan bisa berlangsung secepat ini. Namun kesibukan masih tetap terjadi di area pemotongan daging dan tulang, dan juga di area pembungkusan. Tapi beruntung karena ada mesin yang dapat membantu mempercepat proses pemotongan tulang yang sangat keras. Banyaknya yang membantu membuat pekerjaan semakin cepat.

Setengah jam lagi akan memasuki waktu sholat Jum’at, seluruh pekerja pria pun segera pulang untuk bersiap-siap melakukan sholat Jum’at, sedangkan ibu-ibu dan santri akhwat Pesantren Media tetap melasanakan pekerjaan yang masih belum selesai ini. Semuanya bekerja sama agar semua dapat selesai pada hari ini juga.

Semua pekerjaan berjalan dengan lancar, ada yang memotong, menimbang, mengikat dan ada yang membungkus. Pekerjaan berlangsung dengan cepat.

Usai sholat Jum’at, pekerja pria kembali ke lapangan. Saat itu matahari tepat berada di atas kepala, panas yang sangat menyengat membuat semangat mereka sedikit menurun. Dan para pekerja yang datang ke lapangan tidak sebanyak tadi, karena banyak di antara mereka yang sudah kecapean.

Akhirnya sekitar jam 1, pekerjaan pun selesai, semua daging sudah dibungkus ke dalam plastik dengan ukuran yang sama. Hanya tinggal proses distribusi saja.

Hampir tidak ada yang menduga pekerjaan ini dapat selsai secepat ini, berkat kerja sama dari seluruh warga Laldon, semuanya dapat berlangsung dengan lancar.

Pembagian Daging Qurban

Proses penyembelihan hewan qurban pun usai sudah. Daging pun sudah dikemas rapi ke dalam kantong-kantong kresek kecil. Setiap satu kantong kresek berbobot sekitar 1 Kg yang terdiri atas campuran: daging khas, paru-paru, tulang, jantung, lemak, usus, dan lain sebagainya.

Daging siap dibagikan

Kini, 5 ekor sapi dan 11 ekor kambing itu telah terbagi ke dalam sekitar 600 kantong kresek. Siap dibagikan pada mereka yang telah ditentukan. Sebelum hari H, panitia pelaksana qurban telah membagikan 600 lembar kupon kepada mereka yang diperkirakan berhak menerima pembagian daging ini.

Sekitar jam satu, para penerima kupon ini mulai berdatangan. Semakin lama, jumlah mereka semakin banyak. Tepat ketika pembagian dinyatakan dimulai, mereka langsung berlomba-lomba menjadi yang terdepan guna mendapatkan daging gratis ini.

Aksi saling dorong pun tak dapat dihindari. Mereka merangsek ke arah petugas yang membagikan daging. Berebut menyerahkan kupon. Aksi para penerima daging ini sempat membuat salah seorang satpam komplek kesal. Satpam yang bertugas mengawal dan membantu membagikan daging ini berteriak-teriak, menyuruh mereka bersabar. Sesekali si satpam meberikan dorongan balasan agar para penerima daging tidak semakin merangsek ke depan.

Jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bisa saja ada yang terjepit di tengah-tengah kerumunan atau bahkan terinjak-injak. Inisiatif pun diambil. Pos pembagian yang awalnya hanya satu, kini dipecah menjadi dua. Pemecahan ini berdasarkan nomor urut kupon. Nomor urut sekian hingga sekian tetap di pos satu, sisanya diinstruksikan pindah ke pos dua.

Inisiatif ini sedikit mengurangi beban yang menumpuk di pos satu. Semakin lama barisan para penerima daging semakin berkurang. Tepat ketika waktu menunjukkan jam setengah dua, pembagian pun usai. Seluruh panitia akhirnya bisa bernafas lega.

Usai pembagian daging, panitia pun berkemas, merampungkan segala sesuatu yang perlu dirampungkan. Termasuk membagikan daging tanda ‘uang lelah’ pada sesama panitia. Ada pula panitia dari kelompok ibu-ibu yang sempat mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama. Sebagai kenangan atas kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha 1433 H ini.[farid/anam]

Foto-foto lainnya

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

One thought on “Semarak Idul Adha 1433 H DKM Nurul Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s